• Uncategorized
  • DPR Melakukan usulan pada RUU KIA: Suami Berhak Cuti 40 Hari untuk Dampingi Istri Melahirkan

DPR Melakukan usulan pada RUU KIA: Suami Berhak Cuti 40 Hari untuk Dampingi Istri Melahirkan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Seputardesa – Rancangan Undang-undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) yang dibuat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah merubah aturan cuti melahirkan dari 3 bulan menjadi 6 bulan.

Selanjutnya DPR RI kembali menginisiasi cuti maksimal 40 hari bagi suami yang istrinya melahirkan. dilansir dari halaman Dream.co.id, Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Willy Aditya mengatakan bahwa RUU KIA menguatkan hak para suami untuk dapat mendampingi istrinya yang melahirkan atau mengalami keguguran.

“ DPR RI menyoroti bahwa saat ini kesadaran para ayah semakin tinggi untuk turut serta dalam tugas pengasuhan anak. Maka lewat RUU KIA, kita akan dorong adanya cuti ayah,” kata Willy dalam keterangan resminya pada 20 Juni 2022.

Cuti pendampingan bagi suami tertuang dalam pasal 6 draf RUU KIA yang menyatakan bahwa suami berhak mendapatkan cuti pendampingan ibu melahirkan paling lama 40 hari atau ibu yang mengalami keguguran paling lama 7 hari. 

Sebagaimana, Pasal 6 ayat 2 huruf a draf RUU KIA yang berbunyi ‘Suami sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berhak mendapatkan hak cuti pendampingan: a. melahirkan paling lama 40 hari’.

“ DPR mendorong perusahaan untuk mulai memikirkan paternity leave atau cuti melahirkan untuk karyawan laki-laki yang istrinya melahirkan sebagai upaya dalam mengembalikan keutamaan kemanusiaan dan keluarga itu,” lanjut legislator dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur XI tersebut.

Willy menyebut, RUU KIA dirancang untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Rancangan beleid ini juga menitikberatkan pada masa pertumbuhan emas anak yang merupakan periode krusial tumbuh kembang anak. 

Setidaknya hampir 40 negara telah memperkenalkan kebijakan cuti berbayar bagi pekerja laki-laki untuk terlibat dalam pengasuhan anak yang baru lahir.

Menurut Willy cuti ayah sangat penting dalam pertumbuhan anak, namun hal tersebut belum lazim dilakukan di Indonesia. Willy pun berharap RUU KIA dapat memberikan kesempatan yang sama bagi ibu dan ayah dalam mengasuh anak.

“ Paternity leave atau cuti ayah masih dianggap tidak lebih penting dibanding cuti melahirkan (maternity leave) untuk ibu sehingga tidak banyak perusahaan yang menawarkan cuti orangtua dengan tunjangan kepada para ayah yang baru memiliki anak,” tutup politisi Partai NasDem tersebut.

Sumber: dpr.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER