Awal Mula Perayaan Tahun Baru Masehi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Seputar Desa – Bergantinya tahun selalu dijadikan momentum keriangan oleh berbagai kalangan diseluruh dunia. Malam pergantian tahun pada 31 Desember menyambut 1 januari diisi dengan macam macam kegiatan.

Dimulai dari yang sederhana seperti Do’a bersama, kumpul keluarga, membuat resolusi hingga pesta yang meriah bertabur kembang api.

Namun, tahukah anda kapan dan bagaimana permulaan perayaan tahun baru mulai dilakukan ? Kami merangkum berbagai informasi nya dari berbagai sumber silahkan disimak.

Awal mula bangsa yang merayakan tahun baru

Ilustrasi peradaban mesopotamia

Diyakini oleh berbagai sumber seperti situs History perayaan tahun baru pertama diperkirakan terjadi pada sekitar 4.000 tahun yang lalu oleh bangsa Babilonia yang bertempat di Mesopotamia.

Kerajaan Babilonia Lama didirikan oleh bangsa Amoria pada tahun 1894 SM di bawah pemerintahan raja bangsa Amoria, Sumuabum.

Sementara itu, Kerajaan Babilonia Lama membentang di sepanjang selatan Mesopotamia dan sebagian Assyria (utara Irak). Yaitu wilayah lembah eufrat dan sungai tigris.

Perayaan tahun baru dirayakan pada bulan Maret karena saat itu adalah pergantian musim, karena matahari tepat berada diatas katulistiwa yang sekarang sekitar tanggal 20 maret.

Masyarakat Babilonia merayakan tahun baru dengan mengadakan festival keagamaan secara besar-besaran yang disebut “Akitu”.

Hingga sekarang perayaan tersebut masih dilakukan dibeberapa negara yang berada di timur tengah dengan sebutan Nowruz/Nevruz (Perayaan hari pertama musim semi).

Tradisi ini dilakukan selama 11 hari berturut-turut dengan berbagai rangkaian ritual yang berbeda-beda pada tiap harinya. Masyarakat mengarak patung-patung dewa ke jalan-jalan kota.

Mereka percaya dengan cara ini, masyarakat Babilonia telah dibersihkan untuk mempersiapkan tahun baru dan musim semi baru.

Perayaan tahun baru pada zaman Sebelum Masehi

Di abad kuno pada masa itu, peradaban masyarakat di seluruh dunia mengembangkan kalender yang semakin canggih.

Biasanya, masyarakat kuno pada masa itu untuk menyematkan hari pertama tahun baru berdasarkan suatu peristiwa pertanian atau astronomi.

Misalnya di Mesir, tahun baru pertama kali dimulai dengan banjir tahunan Sungai Nil, yang bertepatan dengan bintang Sirius muncul.

Di China tahun baru dilaksanakan ketika bulan baru kedua setelah titik balik matahari pada musim dingin.

Begitu juga dengan di Persia dan Fenisia, mereka memulai tahun baru di ekuinoks musim semi, yang terjadi ketika matahari bersinar tepat di atas khatulistiwa dan panjang malam hampir sama setiap harinya.

Awal mula perayaan tahun baru 1 januari.

Dilansir dari situs History, pada mulanya bangsa Romawi awalnya merayakan tahun baru setiap tanggal 1 Maret.

Hal ini karena kalender Romawi kuno hanya terdiri dari 10 bulan dan 304 hari yang dimulai pada bulan Maret. Kalender Romawi kuno dibuat oleh raja pertama Roma, Romulus.

Lalu pada abad ke-8 sebelum masehi Raja Roma berikutnya, Numa Pompilius menambahkan bulan Januarius dan Februarius yang sekarang ini kita kenal sebagai bulan Januari dan Februari.

Perayaan tahun baru pada 1 Januari pertama kali dilakukan pada 46 SM.

Kaisar Romawi, Julius Caesar adalah seseorang yang menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama dalam kalender Romawi. Dimana satu tahun terdiri dari 365 seperempat hari.

Dalam membuat kalender baru, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi asal Iskandariyah, Mesir.

Sosigenes memberi saran agar penanggalan baru dibuat berdasarkan revolusi matahari, seperti yang dilakukan orang Mesir kuno.

Julius Caesar juga setuju untuk menambahkan hari sebanyak 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Selain itu, kemudian Julius Caesar memerintahkan setiap empat tahun sekali, satu hari ditambahkan pada bulan Februari sekarang kita menyebutnya tahun kabisat.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli.

Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Agustus, menjadi bulan Agustus.

Penanggalan ini kemudian dikenal dengan nama Kalender Julian, diambil dari nama Julius Caesar.

Diketahui bersama bulan Januarius diambil dari nama dewa permulaan sekaligus juga dewa penjaga pintu masuk di Romawi, yaitu dewa Janus. Dewa Janus memiliki wajah yang menghadap ke depan dan kebelakang.

Untuk menghormati Dewa Janus, maka orang-orang bangsa romawi mengadakan perayaan setiap tanggal 31 Desember tengah malam untuk menyambut 1 Januari.

Perayaan tahun baru Masehi

Paus Gregorius XIII pencetus penanggalan gregorian atau masehi yang dipakai hingga sekarang (Gambar : wikiwand.com)

Saat Kalender Julian pertama kali diterapkan, saat itu belum memasuki tahun Masehi.

Sedangkan Tahun Masehi sendiri baru dihitung sejak kelahiran Isa Al-Masih dari Nazaret, yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada sekitar abad ke-8.

Seiring berjalan waktu, Kalender Julian dimodifikasi sedemikian rupa menjadi Kalender Gregorian.

Kalender Gregorian yang dicetuskan oleh Dr. Aloysius Lilius disetujui oleh pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII pada 1582.

Sistem Kalender Gregorius inilah yang kemudian ditetapkan negara-negara di seluruh dunia hingga saat ini.

Sejak saat itu, setiap tanggal 31 Desember malam dilakukan perayaan pergantian tahun yang meriah di seluruh belahan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULER