Coretan

Dalam perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan peliknya kehidupan Sukarbi (biasa akrab dipanggil Cak Karbi, red) terus berjalan kearah timur menyusuri aliran anak sungai Berantas. Dalam keraguan-raguannya Karbi menyempatkan diri untuk beristirahat di sebuah Warkop yang kebetulan lokasi warungnya berada di pinggir anak sungai Berantas tersebut.

Gambar ilustrasi

Seperti biasa, Karbi sudah sangat akrab dengan unggah ungguh Warkop, begitu njagang sepeda motornya langsung masuk Warkop. “Ning, Kopi pahit, gulone sak sendok the mawon,” pesan Karbi kepada penjual Warkop sambil menata duduk njingrang-nya agar lebih nyaman. “enggih Cak, ditunggu ya,” jawab Ning penjual kopi.

Sembari menunggu pesanan kopinya Karbi mengambil ote-ote dan satu Lombok, dengan mengucap “monggo’, kepada pengunjung warung di sekelilingnya, langsung satu cakotan ote-ote dan ceklusan secuil Lombok masuk di mulutnya.

Kemudian, ada salah satu pengunjung warung yang berada di sebelah Karbi bertanya, “Sampeyan saking pundi koq, kawit ketemu teng warung mriki, “. Karbi menjawab, “Iya cak, saya dari darjo wilayah barat,”. Singkat cerita, setelah basa-basi perkenalan ala Warkop, pembahasan mulai melebar mulai isu-isu baru tentang politik lokal per-bupati-an sampai pandemic corona.

Satu pertanyaan yang cukup mengagetkan Karbi adalah, “Sakjane corona iku obyek opo subyek dari pembahasan sih, Cak?,” tanya salah satu pengunjung Warkop. “Hmmmm,” Karbi mengerutkan bathuk mencari jawaban yang presisi.

“Yo iso obyek, yo kadang dadi subyek,” celutuk Karbi yang kemudian disusul penjelasan yang panjang lebar. Karbi menjelaskan bahwa, corona dadi obyek karena banyak yang memanfaatkan pandemic ini untuk mencari keuntungan pribadi dan corona jadi subyek karena virus ini bisa menjadi pembunuh yang potensial bagi yang rentan. Makanya, perlu penanganan serius semua pihak untuk meredam gejolak corona.

“Conto kongkrit-e piye cak penjelasan pean,” sergah pengunjung warkop yang duduk disebelah kiri Karbi. Dengan berlagak meteges karbi menjelaskan, bahwa selama ini masih sedikit desa-desa yang melakukan teknik pencegahan sesuai dengan kearifan lokal yang dipunyai desa. Bahkan hampir tidak ada himbauan dari Negara sebagai implementasi kewenangan desa, juga masih sedikit desa yang melakukan inisiatif tersebut.

“Bolehlah, Negara punya teknik seragam yang diakui oleh medis dan cara umum, namun jangan kesampingkan desa yang mungkin punya teknik pencegahan pagebluk corona sesuai kearifan lokalnya,” terang Karbi yang mulai meteges. “Sik, Sik…., contone opo?,” sela pengunjung warkop yang ada di dekat pintu warkop.

“Contone, mungkin ae desa punya ramuan jamu khusus yang diajarkan turun temurun, iku perlu di akomodir pihak berwenang,” jelas Karbi. “ojok tithik-tithik jamune dianggep gak mandhi dan gak sehat kurang hyegenis,” tambahnya.

“Utowo, melalui bancaan nang punden, atau lewat wirid-wirid dan tumpengan, makan bersama,” perjelas Karbi. “Lha nek, sing ritual bancaan iki sing mujarab, nggarai makan siang utowo sarapan gak usah nang warung,” celutuk salah satu pengunjung warkop. “wakrakaaaaaa….. wakrakaaaaa….,” sak warkop ngguyu kabeh, seraya pembahasan corona terhenti karena Ning penjual kopi menyuguhkan kopi pahit pesanan Karbi, “Monggo kopine!,”.

RELATED ARTICLES

Antara Corona, Desa Dan Negara

Coretan Dalam perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan peliknya kehidupan Sukarbi (biasa akrab dipanggil Cak Karbi, red) terus berjalan kearah timur menyusuri aliran anak sungai Berantas. Dalam keraguan-raguannya Karbi menyempatkan diri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *